The truth is, didik anak bukanlah hanya tanggungjawab guru tapi satu amanah besar yang Allah berikan pada kita sebagai parents, yang tak seharusnya dilepaskan begitu saja kepada orang lain.
Education anak-anak actually starts at home dan kitalah yang jadi guru pertama dan paling berpengaruh dalam hidup mereka.
Jangan lepas tangan dan salahkan guru sahaja jika ada yang kita rasa kurang pada anak-anak kita.
Guru hanya bersama mereka beberapa jam setiap hari, tapi kita as parents, we’re with them from the moment they wake up until they close their eyes at night.
Kita yang sebenarnya ada peluang paling besar untuk shaping akhlak, disiplin dan nilai hidup mereka.
Bagaimana Acuan Begitulah Kuihnya
Anak-anak memerhatikan cara kita bercakap, cara kita melayan orang lain dan bagaimana kita handle life challenges.
Apa yang mereka lihat pada kita, itulah yang mereka belajar dan jadikan contoh.
Mendidik bukan sekadar mengajar membaca, menulis atau mengira.
Mendidk juga bukar sekadar nak anak-anak cemerlang dalam semua subjek akedemik.
It’s about guiding mereka dengan contoh yang positif, penuh kesabaran dan kasih sayang.
As parents, we need to make time to engage with pembelajaran anak-anak.
Faham sangat bila kadang-kadang kita rasa helpless, overwhelmed dengan pelbagai urusan harian.
Ada masa kita penat, physically and mentally dan terasa macam beban ni tak habis-habis.
Kita pun manusia, ada limit juga. Tapi dalam keadaan tu, ingatlah jangan sampai kita abaikan peranan kita dalam mendidik dan membimbing anak-anak.
Sebab walau sesusah mana sekalipun, peranan kita ni penting sangat, especially dalam membantu mereka bentuk nilai dan karakter.
Teachers Can Teach Them To Count And Read
Tapi hanya parents yang boleh mengajar mereka tentang kasih sayang, hormat dan jati diri.
When kids see us putting in the effort untuk mendidik mereka, they’ll learn to appreciate ilmu, respect their teachers and most importantly, build a strong bond with us as their parents.
Bayangkan kalau hidup kita sentiasa menyalahkan orang lain bila ada yang tak kena.
Anak-anak kita tak mencapai apa yang kita harapkan, kita salahkan guru.
Bila disiplin mereka goyah, kita salahkan rakan sebaya.
So, let’s try to take a step back setiap kali ada cabaran. Instead of pointing fingers, fikirkan apa yang kita boleh perbaiki dalam diri dan dalam cara kita bimbing mereka.
Jangan sampai mereka membesar dengan mindset yang segalanya boleh diletakkan atas bahu orang lain.
Bayangkan kalau kita hilang dalam dunia kita sendiri dan bergantung sepenuhnya pada orang lain, teachers atau devices untuk guide mereka, lama-lama anak-anak rasa disconnected dengan kita.
Bukan kita saja yang terkesan, tapi mereka juga mungkin rasa seolah-olah tak ada support system yang betul-betul kenal dan faham diri mereka.
Baca juga: Anak-Anak Takkan Selalu Perlukan Kita
Benar, kita takkan lari dari melakukan kesalahan.
We’re all human. Tapi cuba untuk bangkit semula dan buat yang terbaik.
Even if it’s just spending a few minutes to ask about their day or helping them with their homework. Those small gestures mean the world to them.
Kecil di mata kita, tapi besar maknanya pada mereka. Percayalah, when they feel seen and supported, mereka akan lebih mudah mendengar nasihat kita dan respect our guidance.

Tiada komen lagi. Jadi yang pertama tinggalkan komen.